WELCOME TO MY BLOG IS THE VERY FUNNY <<<:SEMOGA BERMANFAAT BAGI ANDA SEKALIAN THANK YOU:>>>

Kamis, 10 November 2011

borobudur temple


KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Tuhan Yang Maha Esa yang telah memudahkan kami dalam melaksanakan kegiatan wisata budaya yang diadakan SMKN 1 STM Pembangunan Temanggung pada tanggal….,….,………dengan tujuan untuk menambah wawasan kita tentang keragaman sejarah budaya bangsa kita tercinta Indonesia khususnya jawa.
Kami penulis mengucapkan terimakasih kepada guru IPS dan rekan rekan kami yang telah membantu  dan memotivasi penulisan laporan kegiatan wisata budaya ini hingga selesai tanpa masalah.
Karna tak ada gading yang tak retak,kami penulis pasti mempunyai kekurangan dalam penyampaian kalimat,untuk karena itu kami penulis sangat menghjarap kritik dan saran anda agar kami dapat memperbaiki kesalahan kami.
Dengan adanya kegitan ini,sangat membantu para remaja penerus bangsa untuk mengenal lebih jauh dan mendetail tentang keragaman budaya dan sejarah bangsanya sendiri,sekaligus refreshing bagi kami,dan dapat menambah ilmu wawasan social budayanya.









Tim Penulis


Daftar Isi

Halaman Judul
Kata Pengantar……………………………………………………..…2
Daftar Isi………………………………………………………….…..3
BAB I PENDAHULUAN
A.Latar Belakang………………………………………………….4
B.Tujuan………………………………………………………......4
BAB II PEMBAHASAN
A.Candi Borobudur……………………………………………......5
B.Museum Samudra Raksa…………………………………….....12
C.Museum Karmawibhangga……………………………………..13
D.Museum Sonobudoyo………………………………………….16
BAB III PENUTUP
Kesimpulan……………………………………………………….22
Daftar Pustaka
Lampiran



BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang
Negara Indonesia kita tercinta ini memiliki kekayaan alam budaya dan sejarah yang amat banyak,oleh karena itu kami ingin mengetahui keragaman itu dengan mengikuti  kegiatan studi wisata.
Kekayaan yang telah kami lihat itu sangat menakjubkan,salah satunya ialah candi Borobudur yang amat menakjubkan dan masuk dalam 7 keajaiban di dunia,candi ini adalah peninggalan dari agam hindu,agama terbesar pada saat itu,selain candi borbudur masih ada beberapa peninggalan kuno yang terlatak di area wisata candi Borobudur,salah satunya yaitu museum karmawibhangga, Museum Karmawibhangga adalah  Sisa-sisa bangunan candi yang berada di sekitar Candi Borobudur baik yang sekarang masih berada di lokasi situsnya (insitu) maupun yang dikoleksi di Museum Karmawibhangga merupakan bukti konkret akan keberadaan candi-candi tersebut.
Masih banyak lagi peninggalan Dari hasil observasi lapangan di 9 kecamatan yaitu Kecamatan Muntilan, Dukun, Mungkid, Sawangan, Salam, Srumbung, Borobudur, Tempuran, dan Salaman, diperoleh data arkeologis berupa 14 situs Hindu, 4 situs Budha, 26 lokasi diduga situs Hindu, dan 32 lokasi non situs.

B.Tujuan
»        Untuk menambah wawasan pengetahuan tentang kebudayaan bangsa
»        Sebagai sarana pendidikan langsung
»        Mempelajari situs situs bersejarah di jawa tengah dan DIY
»        Sedikit berefreshinga bagi kami
»        Melaksanakan/memenuhi tugas IPS




BAB II
PEMBAHASAN
A.Candi Borobudur
Borobudur adalah nama sebuah candi Buddha yang terletak di Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Propinsi Jawa Tengah. Secara astronomis terletak di 70.361.2811 LS dan 1100.121.1311 BT. Lingkungan geografis Candi Borobudur dikelilingi oleh Gunung Merapi dan Merbabu di sebelah Timur, Gunung Sindoro dan Sumbing di sebelah Utara, dan pegunungan Menoreh di sebelah Selatan, serta terletak di antara Sungai Progo dan Elo. Candi Borobudur didirikan di atas bukit yang telah dimodifikasi, dengan ketinggian 265 dpl. 
 Candi ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi. Banyak teori yang berusaha menjelaskan nama candi ini. Salah satunya menyatakan bahwa nama ini kemungkinan berasal dari kata Sambharabhudhara, yaitu artinya "gunung" (bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras. Selain itu terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan "para Buddha" yang karena pergeseran bunyi menjadi borobudur. Penjelasan lain ialah bahwa nama ini berasal dari dua kata "bara" dan "beduhur". Kata bara konon berasal dari kata vihara, sementara ada pula penjelasan lain di mana bara berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya kompleks candi atau biara dan beduhur artinya ialah "tinggi", atau mengingatkan dalam bahasa Bali yang berarti "di atas". Jadi maksudnya ialah sebuah biara atau asrama yang berada di tanah tinggi.
Bentuk Bangunan
- Denah Candi Borobudur ukuran panjang 121,66 meter dan lebar 121,38 meter.
- Tinggi 35,40 meter.
- Susunan bangunan berupa 9 teras berundak dan sebuah stupa induk di puncaknya. Terdiri dari 6    teras berdenah persegi dan3 teras berdenah lingkaran.
- Pembagian vertikal secara filosofis meliputi tingkat Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu.
- Pembagian vertikal secara teknis meliputi bagian bawah, tengah, dan atas.
- Terdapat tangga naik di keempat penjuru utama dengan pintu masuk utama sebelah timur dengan ber-pradaksina.
- Batu-batu Candi Borobudur berasal dari sungai di sekitar Borobudur dengan volume seluruhnya sekitar 55.000 meter persegi (kira-kira 2.000.000 potong batu)

Sejarawan J.G. de Casparis dalam disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor pada 1950 berpendapat bahwa Borobudur adalah tempat pemujaan. Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Kahulunan, Casparis memperkirakan pendiri Borobudur adalah raja Mataram dari wangsa Syailendra bernama Samaratungga, yang melakukan pembangunan sekitar tahun 824 M. Bangunan raksasa itu baru dapat diselesaikan pada masa putrinya, Ratu Pramudawardhani. Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abad. Dalam prasasti Karangtengah pula disebutkan mengenai penganugerahan tanah sima (tanah bebas pajak) oleh Çrī Kahulunan (Pramudawardhani) untuk memelihara Kamūlān yang disebut Bhūmisambhāra. [1] Istilah Kamūlān sendiri berasal dari kata mula yang berarti tempat asal muasal, bangunan suci untuk memuliakan leluhur, kemungkinan leluhur dari wangsa Sailendra. Casparis memperkirakan bahwa Bhūmi Sambhāra Bhudhāra dalam bahasa sansekerta yang berarti "Bukit himpunan kebajikan sepuluh tingkatan boddhisattwa", adalah nama asli Borobudur

Denah Borobudur membentuk Mandala, lambang alam semesta dalam kosmologi Buddha.
 








Candi Borobudur memiliki struktur dasar punden berundak, dengan enam pelataran berbentuk bujur sangkar, tiga pelataran berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa utama sebagai puncaknya. Selain itu tersebar di semua pelatarannya beberapa stupa.
Sepuluh pelataran yang dimiliki Borobudur menggambarkan secara jelas filsafat mazhab Mahayana. Bagaikan sebuah kitab, Borobudur menggambarkan sepuluh tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha.
Bagian kaki Borobudur melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih dikuasai oleh kama atau "nafsu rendah". Bagian ini sebagian besar tertutup oleh tumpukan batu yang diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi. Pada bagian yang tertutup struktur tambahan ini terdapat 120 panel cerita Kammawibhangga. Sebagian kecil struktur tambahan itu disisihkan sehingga orang masih dapat melihat relief pada bagian ini.
Empat lantai dengan dinding berelief di atasnya oleh para ahli dinamakan Rupadhatu. Lantainya berbentuk persegi. Rupadhatu adalah dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Tingkatan ini melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas. Pada bagian Rupadhatu ini patung-patung Buddha terdapat pada ceruk-ceruk dinding di atas ballustrade atau selasar.
Mulai lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Tingkatan ini dinamakan Arupadhatu (yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud). Denah lantai berbentuk lingkaran. Tingkatan ini melambangkan alam atas, di mana manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana. Patung-patung Buddha ditempatkan di dalam stupa yang ditutup berlubang-lubang seperti dalam kurungan. Dari luar patung-patung itu masih tampak samar-samar.
Tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi. Stupa digambarkan polos tanpa lubang-lubang. Di dalam stupa terbesar ini pernah ditemukan patung Buddha yang tidak sempurna atau disebut juga unfinished Buddha, yang disalahsangkakan sebagai patung Adibuddha, padahal melalui penelitian lebih lanjut tidak pernah ada patung pada stupa utama, patung yang tidak selesai itu merupakan kesalahan pemahatnya pada zaman dahulu. menurut kepercayaan patung yang salah dalam proses pembuatannya memang tidak boleh dirusak. Penggalian arkeologi yang dilakukan di halaman candi ini menemukan banyak patung seperti ini.
Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain. Yang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Di lorong-lorong inilah umat Buddha diperkirakan melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur bertingkat-tingkat ini diduga merupakan perkembangan dari bentuk punden berundak, yang merupakan bentuk arsitektur asli dari masa prasejarah Indonesia.
 

Di setiap tingkatan dipahat relief-relief pada dinding candi. Relief-relief ini dibaca sesuai arah jarum jam atau disebut mapradaksina dalam bahasa Jawa Kuna yang berasal dari bahasa Sansekerta daksina yang artinya ialah timur. Relief-relief ini bermacam-macam isi ceritanya, antara lain relief-relief cerita jātaka.
Pembacaan cerita-cerita relief ini senantiasa dimulai, dan berakhir pada pintu gerbang sisi timur di setiap tingkatnya, mulainya di sebelah kiri dan berakhir di sebelah kanan pintu gerbang itu.
Secara runtutan, maka cerita pada relief candi secara singkat bermakna sebagai berikut :
Karmawibhangga
 Salah satu ukiran Karmawibhangga di dinding candi Borobudur (lantai 0 sudut tenggara)Sesuai dengan makna simbolis pada kaki candi, relief yang menghiasi dinding batur yang terselubung tersebut menggambarkan hukum karma. Deretan relief tersebut bukan merupakan cerita seri (serial), tetapi pada setiap pigura menggambarkan suatu cerita yang mempunyai korelasi sebab akibat. Relief tersebut
tidak saja memberi gambaran terhadap perbuatan tercela manusia disertai dengan hukuman yang akan diperolehnya, tetapi juga perbuatan baik manusia dan pahala. Secara keseluruhan merupakan penggambaran kehidupan manusia dalam lingkaran lahir - hidup - mati (samsara) yang tidak pernah berakhir, dan oleh agama Buddha rantai tersebutlah yang akan diakhiri untuk menuju kesempurnaan.
Lalitawistara
Merupakan penggambaran riwayat Sang Buddha dalam deretan relief-relief (tetapi bukan merupakan riwayat yang lengkap ) yang dimulai dari turunnya Sang Buddha dari sorga Tusita, dan berakhir dengan wejangan pertama di Taman Rusa dekat kota Banaras. Relief ini berderet dari tangga pada sisi sebelah selatan, setelah melampui deretan relief sebanyak 27 pigura yang dimulai dari tangga sisi timur. Ke-27 pigura tersebut menggambarkan kesibukan, baik di sorga maupun di dunia, sebagai persiapan untuk menyambut hadirnya penjelmaan terakhir Sang Bodhisattwa selaku calon Buddha. Relief tersebut menggambarkan lahirnya Sang Buddha di arcapada ini sebagai Pangeran Siddhartha, putra Raja Suddhodana dan Permaisuri Maya dari Negeri Kapilawastu. Relief tersebut berjumlah 120 pigura, yang berakhir dengan wejangan pertama, yang secara simbolis dinyatakan sebagai Pemutaran Roda Dharma, ajaran Sang Buddha di sebut dharma yang juga berarti "hukum", sedangkan dharma dilambangkan sebagai roda.
Jataka dan Awadana
Jataka adalah cerita tentang Sang Buddha sebelum dilahirkan sebagai Pangeran Siddharta. Isinya merupakan pokok penonjolan perbuatan baik, yang membedakan Sang Bodhisattwa dari makhluk lain manapun juga. Sesungguhnya, pengumpulan jasa/perbuatan baik merupakan tahapan persiapan dalam usaha menuju ketingkat ke-Buddha-an.Sedangkan Awadana, pada dasarnya hampir sama dengan Jataka akan tetapi pelakunya bukan Sang Bodhisattwa, melainkan orang lain dan ceritanya dihimpun dalam kitab Diwyawadana yang berarti perbuatan mulia kedewaan, dan kitab Awadanasataka atau seratus cerita Awadana. Pada relief candi Borobudur jataka dan awadana, diperlakukan sama, artinya keduanya terdapat dalam deretan yang sama tanpa dibedakan. Himpunan yang paling terkenal dari kehidupan Sang Bodhisattwa adalah Jatakamala atau untaian cerita Jataka, karya penyair Aryasura dan jang hidup dalam abad ke-4 Masehi.
Gandawyuha
Merupakan deretan relief menghiasi dinding lorong ke-2,adalah cerita Sudhana yang berkelana tanpa mengenal lelah dalam usahanya mencari Pengetahuan Tertinggi tentang Kebenaran Sejati oleh Sudhana. Penggambarannya dalam 460 pigura didasarkan pada kitab suci Buddha Mahayana yang berjudul Gandawyuha, dan untuk bagian penutupnya berdasarkan cerita kitab lainnya yaitu Bhadracari.
Arca Buddha
            Sebuah arca Buddha di dalam stupa berterawang.Selain wujud buddha dalam kosmologi buddhis yang terukir di dinding, di Borobudur terdapat banyak arca buddha duduk bersila dalam posisi lotus serta menampilkan mudra atau sikap tangan simbolis tertentu.
Patung buddha dalam relung-relung di tingkat Rupadhatu, diatur berdasarkan barisan di sisi luar pagar langkan. Jumlahnya semakin berkurang pada sisi atasnya. Barisan pagar langkan pertama terdiri dari 104 relung, baris kedua 104 relung, baris ketiga 88 relung , baris keempat 72 relung, dan baris kelima 64 relung. Jumlah total terdapat 432 arca Buddha di tingkat Rupadhatu.[3] Pada bagian Arupadhatu (tiga pelataran melingkar), arca Buddha diletakkan di dalam stupa-stupa berterawang (berlubang). Pada pelataran melingkar pertama terdapat 32 stupa, pelataran kedua 24 stupa, dan pelataran ketiga terdapat 16 stupa, semuanya total 72 stupa.[3] Dari jumlah asli sebanyak 504 arca Buddha, lebih dari 300 telah rusak (kebanyakan tanpa kepala) dan 43 hilang (sejak penemuan monumen ini, kepala buddha sering dicuri sebagai barang koleksi, kebanyakan oleh museum luar negeri).

Tahapan pembangunan Borobudur
Tahap pertama
Masa pembangunan Borobudur tidak diketahui pasti (diperkirakan antara 750 dan 850 M). Pada awalnya dibangun tata susun bertingkat. Sepertinya dirancang sebagai piramida berundak. tetapi kemudian diubah. Sebagai bukti ada tata susun yang dibongkar.
Tahap kedua
Pondasi Borobudur diperlebar, ditambah dengan dua undak persegi dan satu undak lingkaran yang langsung diberikan stupa induk besar.
Tahap ketiga
Undak atas lingkaran dengan stupa induk besar dibongkar dan dihilangkan dan diganti tiga undak lingkaran. Stupa-stupa dibangun pada puncak undak-undak ini dengan satu stupa besar di tengahnya.
Tahap keempat
Ada perubahan kecil seperti pembuatan relief perubahan tangga dan lengkung atas pintu.
Pemugaran
Upaya pemugaran Candi Borobudur dilakukan sebanyak dua kali yaitu pertama dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda dibawah pimpinan Van Erp dan yang kedua dilakukan oleh pemerintah Indonesia yang diketuai oleh Soekmono (alm). 
Pemugaran I tahun 1907 – 1911,
Pemugaran I sepenuhnya dibiayai oleh pemerintah Hindia Belanda. Sasaran pemugaran lebih banyak ditujukan pada bagian puncak candi yaitu tiga teras bundar dan stupa pusatnya.Namun oleh karena beberapa batunya tidak diketemukan kembali, bagian puncak (catra) stupa, tidak bisa dipasang kembali. Pemugaran bagian bawahnya lebih bersifat tambal sulam seperti perbaikan/pemerataan lorong, perbaikan dinding dan langkan tanpa pembongkaran sehingga masih terlihat miring. Usaha-usaha konservasi telah dilakukan sejak pemugaran pertama oleh Pemerintah Hindia Belanda dengan terus menerus mengadakan pengamatan dan penelitian terhadap Candi Borobudur, sementara proses kerusakan dan pelapukan batu-batu Candi Borobudur yang disebabkan oleh berbagai faktor terus berlangsung. Dan hasil penelitian yang diadakan oleh suatu panitia yang dibentuk dalam tahun 1924 diketahui bahwa sebab-sebab kerusakan itu ada 3 macam, yaitu korosi, kerja mekanis dan kekuatan tekanan dan tegangan di dalam batu-batu itu sendiri (O.V. 1930 : 120-132).
Pemugaran II tahun 1973 – 1983,
Sesudah usaha pemugaran Van Erp berhasil diselesaikan pada tahun 1911, pemeliharaan terhadap Candi Borobudur terus dilakukan. Berdasarkan perbandingan antara kondisi saat itu dengan foto-foto yang dibuat Van Erp 10 tahun sebelumnya, diketahui ternyata proses kerusakan pada Candi Borobudur terus terjadi dan semakin parah, terutama pada dinding relief batu-batunya rusak akibat pengaruh iklim. Selain itu bangunan candinya juga terancam oleh kerusakan. Dengan masuknya Indonesia menjadi anggota PBB, maka secara otomatis Indonesia menjadi anggota UNESCO. Melalui lembaga UNECO tersebut, Indonesia mulai mengimbau kepada dunia internasional untuk ikut menyelamatkan bangunan yang sangat bersejarah tersebut. Usaha tersebut berhasil, dengan dana dari Pelita dan dana UNESCO, pada tahun 1975 mulailah dilakukan pemugaran secara total. Oleh karena pada tingkat Arupadhatu keadaannya masih baik, maka hanya tingkat bawahnya saja yang dibongkar. Dalam pembongkaran tersebut ada tiga macam pekerjaan, yaitu tekno arkeologi yang terdiri atas pembongkaran seluruh bagian Rupadhatu, yaitu empat tingkat segi empat di atas kaki candi, pekerjaan teknik sipil yaitu pemasangan pondasi beton bertulang untuk mendukung Candi Borobudur untuk setiap tingkatnya dengan diberi saluran air dan lapisan kedap air di dalam konstruksinya, dan pekerjaan kemiko arkeologis yaitu pembersihan dan pengawetan batu-batunya, dan akhirnya penyusunan kembali batu-batu yang sudah bersih dari jasad renik (lumut, cendawan, dan mikroorganisme lainnya) ke bentuk semula.
Perlindungan
Usaha perlindungan dilakukan dengan membuat mintakat (zoning) pada situs Candi Borobudur yaitu:
- Zone I Area suci, untuk perlindungan monumen dan lingkungan arkeologis (radius 200 m)
- Zone II Zona taman wisata arkeologi, untuk menyediakan fasilitas taman dan perlindungan lingkungan sejarah (radius 500 m)
- Zone III Zona penggunaan tanah dengan aturan khusus, untuk mengontrol pengembangan daerah di sekitar taman wisata (radius 2 km)
- Zone IV Zona Perlindungan daerah bersejarah, untuk perawatan dan pencegahan kerusakan daerah sejarah (radius 5 km)
- Zone V Zona taman arkeologi nasional, untuk survei arkeologi pada daerah yang luas dan pencegahan kerusakan monumen yang masih terpendam (radius 10 km)
Zona I dan zona II dimiliki oleh pemerintah. Zona I dikelola oleh Balai Studi dan Konservasi Borobudur, zona II dikelola oleh PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko. Pada zona II juga tersedia fasilitas turis : parkir mobil, loket tiket, pusat informasi, museum, kios-kios, dan lain-lain. Zona III, IV, dan V dimiliki oleh masyarakat, tetapi pemanfaatannya dikontrol oleh pemerintah daerah.
Suatu hal yang unik, bahwa candi ini ternyata memiliki arsitektur dengan format menarik atau terstruktur secara matematika. setiap bagain kaki, badan dan kepala candi selalu memiliki perbandingan 4:6:9. Penempatan-penempatan stupanya juga memiliki makna tersendiri, ditambah lagi adanya bagian relief yang diperkirakan berkatian dengan astronomi menjadikan borobudur memang merupakan bukti sejarah yang menarik untuk di amati.
B.Museum Samudra Raksa
Museum Kapal Samudraraksa.Kapal Samudraraksa adalah sebuah kapal kayu yang dibuat pada tahun 2003 lalu dan sukses mengarungi samodra dengan menempuh jalur Jakarta-Afrika sebelum kemudian terdampar cukup lama di Ghana. Kata Samudraraksa mempunyai arti pelindung lautan.

Kapal itu dibangun dengan menggunakan bahan seluruhnya dari kayu oleh As’ad Abdullah yang berusia 69 tahun di pulau Pagerungan Kecil, kabupaten Sumenep, Madura. Pembuatannya dengan menggunakan teknologi tradisional dan dibantu sejumlah arsitek luar negeri. Awalnya, arsitek luar negeri sempat menilai kapal ini tidak akan bisa mengapung karena cara tradisinal As’ad. Baru setelah kapal ini bisa dioperasikan mereka baru percaya.

Pembuatan kapal ini diinspirasi oleh Philip Beale, mantan anggota angkatan laut Inggris yang berkunjung ke Borobudur pada 8 November 1982. saat melihat relief kapal di candi ini, dia puny aide untuk mecoba membuat kapal serupa dan melakukan ekspedisi.
Pada tanggal 15 Agustus 2003 kapal tersebut memulai ekspedisi jalur Kayu Manis yang menempuh Jakarta, Madagaskar dan Afrika. Pada Desember 2003 kapal ini mengakhiri eskpedisinya di Ghana. Karena sesuatu hal kapal tersebut akhirnya berhenti di Ghana. Dan setelah tujuh bulan di sana kemudian dibawa ke Indonesia dengan dipotong-potong terlebih dahulu.

Setelah dibawa kembali ke Candi Borobudur, kapal dengan ukuran panjang 18,29 meter, lebar 4,25 meter dan tinggi badan 2,25 meter tersebut kemudian dirangkai kembali. Selanjutnya diletakkan di museum yang dibuat secara khusus di komplek Candi Borobudur. Keberhasilan ekspedisi kapal ini membuktikan pada abad ke-8 orang sudah bisa membuat kapal dengan kekuatan yang hebat untuk mengarungi Samodra.

Dalam museum ini, anda dapat melihat betapa kokohnya kapal yang dibuat dengan cara tradisional. Anda juga dapat melihat benda-benda yang pernah digunakan pada saat melakukan pelayaran. Misalnya saja: peralatan memasak, peralatan rumah tanggasehari-hari, buku, CD dan Kaset. Bagi awak kapal buku menjadi pembunuh kejenuhan.

Kapal Samudraraksa terbagi menjadi 3 bagian, yaitu depan (kabin tempat tidur), tengah (ruang makan dan navigasi) dan buritan (ruang kemudi dan dapur). Dalam pelayarannya Kapal Samudraraksa dilengkapi dengan: 2 layar tanjak 2 buah kemudi cadik ganda dengan kecepatan 3 – 10 knot.


C.Museum Karmawibhangga
Laporan Belanda yang disusun dalam buku ROD 1914 menyebutkan adanya beberapa candi Hindu di sekitar Borobudur. Peninggalan arkeologis tersebut sebagian menjadi koleksi Museum Karmawibhangga. Sisa-sisa bangunan candi yang berada di sekitar Candi Borobudur baik yang sekarang masih berada di lokasi situsnya (insitu) maupun yang dikoleksi di Museum Karmawibhangga merupakan bukti konkret akan keberadaan candi-candi tersebut. Oleh karena itu penelitian ini untuk mengetahui sejauh mana konteks temuan arca-arca lepas yang menjadi koleksi Museum Karmawibhangga dengan keberadaan candi-candi Hindu yang ada di sekitar Candi Borobudur serta sejauh mana temuan candi-candi tersebut dapat memberikan informasi mengenai sosial budaya dan sejarah politiknya.
Data yang digunakan untuk menjawab permasalahan yaitu data non tekstual berupa sisa-sisa bangunan candi maupun arca dan tekstual berupa prasasti. Untuk memperoleh data non tekstual melalui kegiatan observasi lapangan. Kegiatan observasi lapangan diarahkan pada pencarian data arkeologis yang berhubungan dengan temuan arca-arca lepas dari agama Hindu dan konteks temuan tersebut dengan keberadaan candi-candi Hindu di sekitar Borobudur. Dari hasil observasi lapangan di 9 kecamatan yaitu Kecamatan Muntilan, Dukun, Mungkid, Sawangan, Salam, Srumbung, Borobudur, Tempuran, dan Salaman, diperoleh data arkeologis berupa 14 situs Hindu, 4 situs Budha, 26 lokasi diduga situs Hindu, dan 32 lokasi non situs.
Untuk memperoleh data tesktual melalui prasasti yang dikeluarkan oleh raja-raja Mataram Kuna sekitar abad VII ? VIII Masehi. Prasasti-prasasti yang isinya tentang aspek budaya dan berhubungan dengan keagamaan banyak dikeluarkan pada masa pemerintahan raja Balitung. Peranan prasasti sebagai penunjang kehidupan keagamaan berupa anugerah yang diberikan untuk kepentingan keagamaan meliputi pembangunan bangunan suci seperti kabikuan, wihara, dharma, prasada, kamulan, ataupun pemberian anugerah berupa sumber pembiayaan bagi pemeliharaan bangunan suci berupa tanah sima yang hasil pajaknya dipersembahkan bagi kepentingan bangunan suci. Prasasti Taji dikeluarkan untuk kepentingan kabikuan, prasasti Sangsang, Wanua Tengah III, dan Wukajana untuk kepentingan bangunan wihara, prasasti Kandangan untuk kepentingan bangunan suci prasada, prasasti Telang I untuk kepentingan bangunan suci kamulan, dan prasasti Poh untuk kepentingan bangunan suci dharma). Prasasti yang isinya memberikan informasi tentang keadaan politik pada masa itu dapat dilihat dari prasasti Mantyasih dan prasasti Wanua Tengah III yang berisi tentang silsilah nama raja-raja yang memerintah pada masa Mataram Kuna.
Bangunan candi di wilayah Magelang apabila diamati dari bentuk arsitekturnya, gaya seni bangunannya, gaya seni arcanya, dan komponen bangunan lainnya, akan diperoleh gambaran kronologi relatif bangunannya kira-kira sekitar abad VIII ? IX Masehi. Dengan menempatkan bangunan candi pada kronologi tertentu, maka perkiraan masa pendirian candi dapat dihubungkan dengan penguasa yang memerintah pada masa itu. Namun hal ini pun masih bersifat relatif, karena Candi Borobudur sendiri yang dibangun sangat besar dan megah belum pernah ditemukan prasasti yang menerangkan secara langsung tentang pendirian Candi Borobudur, ataupun penguasa yang telah membangunnya. Hanya berdasarkan paleografi terhadap tulisan Jawa Kuna yang terpahatkan di relief Karmawibhangga yang bentuknya menyerupai tulisan prasasti yang berangka tahun akhir abad VIII sampai awal abad IX Masehi. Demikian juga dengan Candi Mendut, Candi Pawon, dan Candi Ngawen, dilihat dari seni gaya bangunannya diperkirakan sezaman dengan masa pendirian Candi Borobudur.
Untuk kelompok candi-candi Hindu yang berada di sekitar Candi Borobudur atau yang berada di wilayah lainnya diperkirakan didirikan sezaman dan sesudah Candi Borobudur. Perkiraan ini didasarkan pada data artefaktual yang diperoleh pada waktu dilakukan observasi lapangan. Data tersebut terletak pada aspek bahan yang digunakan untuk membangun candi. Untuk candi-candi Hindu yang berada di sekitar Candi Borobudur kemungkinan dibuat dari bahan bata. Hal ini didasarkan dari data observasi lapangan bahwa pada saat melacak data tersebut selalu ditemukan pecahan bata kuna, meskipun untuk objek pemujaannya yang berwujud arca dibuat dari bahan batu karena dianggap lebih suci dari bangunan candinya. Namun demikian terdapat juga candi-candi Hindu yang terbuat dari bahan batu, tetapi lokasinya jauh dari Candi Borobudur, misalnya Candi Asu, Candi Pendem, Candi Gunung Sari, maupun Candi Gunung Wukir.
Candi-candi Hindu di sekitar Borobudur dilihat dari aspek sejarahnya belum banyak diketahui secara tekstual, karena belum ada data prasasti yang menyebutkan pertanggalannya maupun pendirinya. Namun demikian apabila dilihat dari latar belakang keagamaannya, candi-candi tersebut dibangun pada masa penguasa yang memeluk agama Hindu, sehingga dimungkinkan candi-candi Hindu di sekitar Candi Borobudur merupakan bangunan candi dari penguasa keturunan Sanjaya yang memeluk agama Hindu. Pada masa Mataram Kuna kehidupan keagamaan berjalan dengan baik dalam artian tidak terjadi pertentangan antara agama Hindu dan Budha. Kedua agama ini dapat hidup berdampingan dengan damai. Perhatian raja sangat besar terhadap perkembangan serta pertumbuhan agama pada waktu itu. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya bangunan keagamaan baik dari agama Hindu maupun Budha, bahkan kedua bangunan candi yang berlatar belakang keagamaan berbeda didirikan berdekatan, misalnya untuk wilayah Magelang Candi Borobudur dikelilingi oleh oleh candi-candi Hindu, begitu juga untuk wilayah selatan misalnya Candi Prambanan dikelilingi oleh Candi Sewu, Plaosan, dan lain-lain.
Berdasarkan data arkeologis berupa temuan arca-arca lepas, komponen bangunan candi Hindu yang menjadi koleksi Museum Karmawibhangga maupun yang masih berada di lokasi tempat benda cagar budaya tersebut berada, berdasarkan laporan ROD, dan berdasarkan observasi lapangan membuktikan bahwa di sekitar Candi Borobudur yang berlatar belakang agama Budha berdiri bangunan candi-candi yang berlatar belakang agama Hindu baik yang masih insitu maupun tinggal reruntuhannya saja.
Peninggalan arkeologis baik yang bersifat Hindu maupun Budha yang tersebar di wilayah Magelang apabila dilihat dari bentuk arsitekturnya, gaya seni bangunannya, gaya seni arcanya, dan komponen bangunan lainnya diperkirakan dibangun dalam kurun waktu yang berbeda yaitu sekitar awal abad VIII sampai akhir abad IX Masehi. Perkiraan masa pendirian bangunan candi tersebut dapat dihubungkan dengan penguasa yang memerintah pada waktu itu. Melalui data tekstual berupa prasasti, aspek politik melalui daftar silsilah raja-raja yang memerintah pada masa Mataram Kuna didukung aspek sosial budaya mengenai penetapan sebuah sima untuk kepentingan keagamaan berupa pendirian sebuah bangunan suci atau pemberian biaya untuk pemeliharaan atau perawatan bangunan candi dapat memberikan gambaran keadaan sosial politik pada masa Jawa kuna.
Dari uraian prasasti Mantyasih, prasasti Wanua Tengah III, prasasti Kayumwungan dan data artefaktual berupa bangunan candi baik dari kelompok candi-candi Hindu maupun kelompok candi-candi Budha, dapat dikatakan bahwa pada masa Mataram Kuna diperintah oleh dua penguasa yang menganut agama yang berbeda yaitu agama Hindu sebagai keturunan dinasti Sanjaya dan agama Budha sebagai keturunan dinasti Syailendra. Kedua penguasa tersebut masing-masing mendirikan bangunan candi menurut agama yang dianut untuk merefleksikan keselarasan antara makrokosmos dan mikrokosmos.
Candi Borobudur didirikan oleh penganut agama Budha dari dinasti Syailendra. Sementara itu candi-candi Hindu di sekitar Borobudur didirikan oleh penganut agama Hindu dari dinasti Sanjaya. Meskipun Candi Borobudur dan candi-candi Hindu di sekitarnya didirikan oleh agama yang berbeda dan penguasa yang berbeda juga, namun kehidupan keagamaan pada masa itu berjalan dengan baik tidak terjadi pertentangan antara agama Hindu dan Budha. Kedua agama ini dapat hidup berdampingan dengan damai. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya bangunan keagamaan baik dari agama Hindu maupun Budha, bahkan kedua bangunan candi yang berlatar belakang keagamaan berbeda didirikan berdekatan, misalnya di wilayah Magelang Candi Borobudur dikelilingi oleh oleh candi-candi Hindu, dan Candi Prambanan dikelilingi oleh Candi Sewu, Plaosan, Kalasan, dan lain-lain.


D.Museum Sonobudoyo
Museum Sonobudoyo terletak di bagian utara Alun-alun Utara dari Keraton Yogyakarta. Bangunan museum yang didesain oleh Ir Th Karsten ini berbentuk rumah joglo dengan diilhami arsitektur gaya bangunan Masjid Kasepuhan Cirebon. Pencetus berdirinya Museum Sonobudoyo adalah sebuah yayasan yang bergerak dalam bidang kebudayaan Jawa, Madura, Bali dan Lombok, yang bernama Java Institut. Pada tanggal 6 November 1935 yayasan yang waktu itu dipimpin oleh Prof. Dr. Huseun Djajaningrat mendirikan Museum Sonobudoyo atas restu dari Ng. D.S.D.I.S. Kanjeng Sultan Hamengku Buwono VIII. Peresmiannya ditandai dengan Candrasengkala “Kayu Winayang Ing Brahma Buddha”.
Sebagai sebuah museum, Sonobudoyo masih berfungsi terus hingga saat ini, walaupun pengelolanya berganti-ganti. Pada saat Jepang berkuasa (1942), Museum Sonobudoyo dikelola oleh pemerintahan Jepang. Kemudian, sejak Jepang kalah hingga tahun 1949 museum ini dikelola oleh Dinas Wiyotoprojo. Tahun 1950-1973 dikelola oleh Inspeksi Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Yogyakarta. Namun, pada tanggal 11 Desember 1974, melalui SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor: 693/0/1979, Museum Sonobudoyo diambilalih oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan dijadikan sebagai Museum Negeri Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dan, saat ini Museum Negeri Sonobudoyo merupakan Unit Pelaksana Teknis Daerah pada Dinas Kebudayaan Provinsi DIY, yang mempunyai fungsi pengelolaan benda museum yang memiliki nilai budaya ilmiah. Sedangkan, tugasnya adalah mengumpulkan, merawat, pengawetan, melaksanakan penelitian, pelayanan pustaka, bimbingan edukatif kultural serta penyajian benda koleksi.

Macam macam kolelsi di museum sonobudoyo:
Koleksi Geologi
Koleksi Biologi
Koleksi Etnografi
Koleksi Arkeologi
Koleksi Historika
Koleksi Numismatika
Koleksi Filologika
Koleksi Keramologika
Koleksi senirupa
Koleksi Tehnologi

Pengumpulan koleksi didapat melalui penyerahan dari masyarakat dengan system ganti rugi, hibah, pesanan, barang titipan.
Jumlah 10 jenis koleksi Museum Negeri Sonobudoyo dengan rincian sebagai berikut :
Koleksi Geologi : 13
Koleksi Biologi : 34
Koleksi Ethnografi : 8.157
Koleksi Arkeologi : 1.981
Koleksi Historika : 42
Koleksi Numismatika : 21.914
Koleksi Filologika : 1.240
Koleksi Keramologika : 384
Koleksi Senirupa : 9.120
Koleksi Teknologi : 384
Jumlah : 43.235
Posisi pada bulan Maret 2006
Dari data jumlah 10 jenis benda koleksi Museum Negeri Sonobudoyo sebanyak 43.235 buah :
Sudah diinventarisir sejumlah 11.031 buah ( 25,51 % )
Belum diinventarisir sejumlah 32.204 buah ( 74,48 % )
Koleksi yang dipamerkan pada ruang Pameran tetap di Museum Negeri Sonobudoyo unit I sebanyak 1.184 buah terdiri :
Koleksi Etnografi : 715 buah
Koleksi Arkeologi : 445 buah
Koleksi Nimismatika : 14 buah
Koleksi Keramologika : 7 buah
Koleksi Filologika : 3 buah
Koleksi yang dipamerkan pada ruang Pameran tetap di Museum Negeri Sonobudoyo Unit II sebanyak 810 buah terdiri dari :
Koleksi Geologika : 38 buah
Koleksi Biologika : 31 buah
Koleksi Ethnografika : 304 buah
Koleksi Numismatika : 147 buah
Koleksi Filologika : 12 buah
Koleksi Senirupa : 161 buah
Bila pengunjung ingin memasuki Museum Sonobudoyo, terlebih dahulu akan melewati sebuah Pintu Gerbang yang berbentuk Semar Tinandu, dan beratapkan model joglo. Didinding bagian dalam gapura sisi Timur terdapat Prasasti dengan Candra Sengkala “Kayu Winayang Ing Brahmana Budha”, yang berarti Tahun 1886 (Tahun Jawa), atau 1935 Masehi, dimana Museum Sonobudoyo didirikan.
Kunjungan selanjutnya menuju ruang Pendopo yang berbentuk Limas Lambang Tumpang Sari, mirip bangunan Masjid Kanoman Cirebon.
Fungsi pendopo adalah sebagai tempat untuk menerima pengunjung dalam jumlah banyak.
Didalam ruang ini dipamerkan dua perangkat Gamelan, antara lain :
Gamelan Kyai Mega Mendung, yang bernada Pelog dan slendro.berasal dari daerah Cirebon pada abad 19. Pada gamelan tersebut terdapat hiasan yang bermotifkan Mega Mendung.
Gamelan Kyai dan Nyai Ririrs Manis, Gaya Yogyakarta yang bernada Slendro dan Pelog.
Masyarakat pada umumnya telah mengenal adanya Museum Negeri Sonobudoyo dengan Benda Koleksi yang dipamerkan, akan tetapi belum kenal betul tentang aktifitas dan fasilitas yang ada dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, adapun nama ruang tersebut adalah Ruang Auditorium dan Ruang Serbaguna.
Ruang Auditorium, terletak didalam kompleks Gedung Museum Sonobudoyo Unit I, Jl. Trikora No 6 Yogyakarta, dibagian sisi sebelah Barat. Gedung terdiri dua lantai, adapun pengunaannya adalah untuk menyelenggarakan kegiatan seperti Seminar, Sarasehan, Ceramah, Workshop, Rapat Kerja, dan lain sebagainya.
Kapasitas ruang : lantai pertama 75 Orang
lantai dua 100 Orang.
Sarana yang tersedia dalam ruang : AC, Sound System, Kursi kuliah, dan Meja Seminar.
Ruang Serbaguna, terletak Di Museum Negeri Sonobudoyo Unit II, Jl. Mijilan No I , Dalem Condrokiranan Yogyakarta (Sebelah Tenggara Museum Negeri Sonobudoyo Unit I). Pengunaan ruang tersebut adalah untuk acara Upacara Pernikahan Gaya Yogyakarta, Seminar, Ceramah, Sarasehan, Rapat – Rapat dan lain sebagainya.Kapasitas Gedung : 500 Orang
Sarana yang tersedia : AC, Sound system, kursi lipat , meja seminar dan ruang untuk transit dengan kapasitas 15 Orang.
Pada Tahun 1975 Ruang Laboratorium Konservasi Museum Negeri Sonobudoyo telah selesai dibangun, adapun fungsi ruang tersebut adalah untuk mengantisipasi semua benda koleksi museum yang segera untuk mendapat penanganan pengamanan secara rutin.
Kegiatan ini sesuia dengan tugas pokok dari museum, yaitu, mengumpulkan, memelihara, merawat dan mengawetkan benda koleksi, sehingga keselematan benda koleksi tersebut akan lebih terjamin keamanannya dari kerusakan yang diakibatkan karena faktor iklim maupun usia. Beberapa peralatan telah dimiliki oleh laboratorium baik untuk analisa maupun melakukan treatment terhadap koleksi.

Pada Tahun 1940 Museum Sonobudyo telah dilengkapi dengan Perpustakaan yang menempati Gedung seluas 668 m2. Adapun buku buku dan naskah yang terdapat dalam Perpustakaan sebagaian besar menggambarkan kebudayaan Bangsa Indonesia.
Perpustakaan Museum Sonobudoyo dapat dimanfaatkan bagi seluruh kalangan masyarakat, mulai dari Pelajar, Mahasiswa, Peneliti maupun komunitas lain yang berhubungan dengan kebudayaan.
Jadwal Buka
Selasa – Kamis : Pukul 08.00 – 14.00 WIB
Jum’at : Pukul 08.00 – 11.00 WIB
Sabtu & Minggu : Pukul 08.00 – 13.00 WIB
Senin dan Hari Besar atau Libur Nasional Tutup


Harga Tiket Masuk
1. Tiket Masuk Museum :
a. Dewasa Perorangan Rp. 3.000,-
Dewasa Rombongan Rp. 2.500,-
b. Anak – anak Perorangan Rp. 2.500,-
Anak – anak Rombongan Rp. 2.000,-
c. Wisatawan Asing Rp. 5.000,-
2. Tiket masuk Pergelaran Wayang Durasi Singkat
Rp. 20.000,- / 0rang
Museum ini terletak di sebelah barat laut Kraton Yogyakarta dan dekat dengan lintas Malioboro, Jalan Trikora 6. Batas-batas lokasi sebagai berikut : Selatan : Jl. Pekapalan; Utara : Jl K.H.A. Dahlan; Timur : Jl. Trikora dan beberapa bangunan; Barat : Pemukim.
Museum Sonobudoyo berdekatan dengan objek wisata lainnya, seperti Kraton Yogyakarta yang pengunjungnya banyak, Taman Sari, Kebun Binatang Gembiraloka, Museum Benteng Vredeburg, dan Pura Pakualaman. Kawasan sekitar Sonobudoyo memiliki citra karakter bangunan kolonial yang sangat kental, diantaranya adalah Bank BNI, Benteng Vredeburg, Gedung Agung, Seni Sono, Kantor Pos. Bangunan lama Museum Sonobudoyo yang didesain oleh Ir. Th. Karsten dan Vistarini memiliki karakter campuran antara bangunan Jawa dan kolonial. Citra bangunan Jawa terlihat dari penggunaan bentuk atap dan regol, sedangkan citra bangunan kolonial terlihat dari skala bangunan dan elemen struktur yang digunakan. Museum Sonobudoyo merupakan museum terlengkap setelah museum nasional Jakarta terkait dengan bidang seni budaya dan kepurbakalaan. Museum ini merupakan embrio dari museum tertua dan pertama di DIY. Museum ini resmi didirikan pada tanggal 6 November 1935, pada hari Rabu Wage, tanggal 9 Ruwah 1866 dengan sengkalan "Kayu Winayang Brahmana Buda" oleh Prof. Dr. Husein Djajadiningrat, diresmikan langsung oleh Sri Sultan Hamengku Buwana VIII. Java instituut merupakan salah satu organisasi yang berkecimpung di bidang Kebudayaan Jawa yang anggotanya terdiri dari orang asing dan Indonesia. Keputusan mendirikan museum ini merupakan hasil kongres Java Institut di Surakarta tahun 1931. Ir Th. Karsten merupakan arsitek terkemuka yang menghasilkan banyak menghasilkan karya rencana gambar bangun di Jawa. Setelah calon koleksi museum terkumpul dari daerah meliputi budaya Jawa, yaitu seluruh Pulau Jawa, Madura, Bali, sebagian Lombok, museum ini segera didirikan. Java Instituut mendirikan museum ini untuk museum sejarah dan etnografi dengan koleksi Jawa, Madura, dan Bali sesuai dengan lingkup kegiatan Java Instituut, bahkan sebagian Pulau Lombok. Java Instituut merupakan sebuah Yayasan yang bergerak di bidang kebudayaan Jawa, bali dan Madura. Museum dibuka untuk umum menempati bekas kantor "Schauten" di sisi barat laut alun-alun utara depan Kraton Yogyakarta, di antara Bangsal Pangurakan deretan barat laut.
Pada tahun 1935 Museum Sonobudoyo pernah menyelenggarakan sejenis sekolah pertukangan seni ukir kayu dan ukir logam (aluminium dan perak) yang merupakan rintisan pendirian jurusan kriya pada pendidikan formal ASRI. Pada masa pendudukan Jepang, museum ini dikelola oleh Pemerintah Jepang. Setelah Indonesia merdeka ditangani oleh Dinas Wiyoto Projo (1945-1949). Pada tahun 1950-1973 museum ditangani oleh Inspeksi Kebudayaan Dinas P dan K Provinsi DIY. Bangunan Museum Sonobudoyo memiliki luas 5.031 meter persegi dan berada pada lahan seluas 7.867 meter persegi. Bangunan-bangunan yang ada meliputi : Ruang pameran tetap, ruang auditorium, ruang storage koleksi, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang preparasi, ruang kantor, ruang pelayanan umum lainnya, ruang pengelasan. Gedung ruang pamer tetap merupakan bangunan sentral di dalam kompleks Museum Sonobudoyo. Gedung pameran berupa Joglo dan bangunan "Dalem" yang dihubungkan dengan pringgitan layaknya bangunan tradisional Jawa lainnya. Bangunan "Dalem" dihubungkan dengan selasar selebar 2 m dengan Ruang Pagelaran. Pada prinsipnya pemanfaatan tanah untuk bangunan museum Sonobudoyo berpola bangunan tradisional Jawa. Antara halaman luar dengan halaman dalam dipisahkan dengan tembok -cepuri- yang dihias dengan pilar bermahkota kuncup melati. Masuk ke halaman dalam melalui pintu gerbang utama berbentuk Semar tinandu.
Oleh karena Museum Sonobudoyo memiliki koleksi kurang lebih 42.698 buah meliputi 10 jenis, yaitu Koleksi Geologi 13 buah, Koleksi Bilogi 24 Buah, Koleksi Etnografi 8.157 buah, Koleksi Arkeologi 1.983 buah, Koleksi Historika 42 buah, Koleksi Numistika 21.914 buah, Koleksi Filologika 1.240 buah, Koleksi Keramik 348 buah, Koleksi Seni Rupa 9.120 buah, Koleksi Teknologika 384 buah, namun ruang pamerannya tidak cukup, maka dilakukan perluasan ruang pameran di kompleks nDalem Jayakusuman atau nDalem Condrokiranan di Wijilan, Panembahan sebelah timur alun-alun utara Yogyakarta. Di Museum Negeri Sonobudoyo unit II tersebut terdiri dari Ruang Pendopo Pengenalan, Ruang Kesenian, Ruang Transportasi, Ruang Pendopo Besar, dan Ruang Kantor dan lainnya. Selanjutnya diresmikan pada 6 November 1998 oleh Gubernur Provinsi DIY Sri Sultan Hamengku Buwana X yang dihadiri juga Direktur Jenderal Kebudayaan.
Semestinya Museum Sonobudoyo di tahun-tahun yang akan datang memiliki lebih banyak pengunjung lagi dengan peningkatan managemen pengelolaan yang berskala internasional. Apalagi benda koleksi museum Sonobudoyo memiliki daya saing budaya yang tinggi :
  1. Mempunyai nilai budaya dalam pengertian sudah termasuk nilai ilmiah, baik menurut ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu sosial dan budaya, selain juga mempunyai nilai keindahan
  2. Dapat diidentifikasikan : ujud, genus, asal, gaya dan fungsinya.
  3. Dapat dianggap suatu monumen atau yang bakal menjadi monumen dalam arti suatu tanda peringatan peristiwa sejarah.
  4. Dapat dianggap suatu dokumen dalam arti sebuah bukti kenyataan kehadiran bagi suatu penelitian ilmiah.
  5. Menarik dari segi fisik koleksi.




BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
ü  Begitu banyak hal yang menkjubkan dari masing masing peninggalan sejarah tersebut.

ü  Candi Budha ini memiliki 1460 relief dan 504 stupa Budha di kompleksnya. Jutaan orang mendamba untuk mengunjungi bangunan yang termasuk dalam World Wonder Heritages ini. Tak mengherankan, sebab secara arsitektural maupun fungsinya sebagai tempat ibadah, Borobudur memang memikat hati.

ü  Bangunan Borobudur berbentuk punden berundak terdiri dari 10 tingkat. Tingginya 42 meter sebelum direnovasi dan 34,5 meter setelah direnovasi karena tingkat paling bawah digunakan sebagai penahan. Enam tingkat paling bawah berbentuk bujur sangkar dan tiga tingkat di atasnya berbentuk lingkaran dan satu tingkat tertinggi yang berupa stupa Budha yang menghadap ke arah barat. Setiap tingkatan melambangkan tahapan kehidupan manusia. Sesuai mahzab Budha Mahayana, setiap orang yang ingin mencapai tingkat sebagai Budha mesti melalui setiap tingkatan kehidupan tersebut.

ü  Kapal Samudraraksa terbagi menjadi 3 bagian, yaitu depan (kabin tempat tidur), tengah (ruang makan dan navigasi) dan buritan (ruang kemudi dan dapur). Dalam pelayarannya Kapal Samudraraksa dilengkapi dengan: 2 layar tanjak 2 buah kemudi cadik ganda dengan kecepatan 3 – 10 knot.

ü  Museum Karmawibhangga merupakan bukti konkret akan keberadaan temuan candi-candi dapat memberikan informasi mengenai sosial budaya dan sejarah politiknya.





















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar